Hiburan, boleh boleh saja

Orang-orang semakin dimanja bermacam hiburan. Coba tengok di kota-kota besar. Semua bentuk fasilitas hiburan ada. Ingin belanja enjoy, ada mal megah di mana-mana. Untuk yang gandrung melihat film paling baru, banyak yang melenggang ke gedung bioskop. Atau menginginkan dengarkan musik, mereka pergi ke kafe atau tempat beda.

Hiburan juga tersaji dirumah. Ada seperangkat tehnologi maju yang siap melayani keperluan si empunya. Nonton tv, dengarkan tape serta radio, bermain computer, dapat dikerjakan setiap saat. Semuanya dapat mendatangkan kesenangan ataupun keceriaan.

Jadi itu, nyaris beberapa besar fasilitas hiburan tidak sering sepi peminat. Tidak heran bila aktor industri hiburan selalu berlomba memberi beberapa produk baru supaya menarik perhatian orang-orang. Umat Muslim tidak luput dari fenomena ini. Sejatinya, mencari hiburan serta keceriaan sudah menempel pada umat mulai sejak awal kelahiran Islam.

Menurut Yusuf Al-Qaradhawi dalam bukunya Halal serta Haram, pada saat Nabi Muhammad SAW, mendengar puisi, musik, atau bermain, jadi sisi hidup. Bergembira tidak tabu dalam Islam. Waktu itu umat tidak cuma melakukan kebiasaan beribadah. Mereka juga melakukan aktivitas yang membawa keceriaan.

Rasulullah sendiri bukanlah sosok yang kaku. Beliau begitu cinta pada keceriaan serta apa sajakah yang bisa membawa pada keceriaan itu, ” tutur Al-Qaradhawi. Akan tetapi, ada tips yang diputuskan Rasulullah dalam berhibur. Demikian juga pada bermusik serta menyanyi.

Satu hadis kisah Bukhari serta Muslim menyebutkan, pada hari Idul Adha, Abu Bakar sempat menjumpai Rasulullah di tempat tinggal Aisyah. Waktu itu, di samping Aisyah ada dua gadis yang tengah bernyanyi serta memukul gendang. Abu Bakar lalu mengusir ke-2 gadis itu.

Tetapi Rasulullah menghindar Abu Bakar serta berkata, Biarlah mereka itu, hai Abu Bakar. Sebab, hari ini yaitu hari raya (hari bersenang-senang). ” Dalam hal semacam ini, Imam Al-Ghazali memiliki pendapat, berdasar pada hadis-hadis yang ada, nyanyian serta permainan tidaklah haram.

Jikalau ada hadis yang melarang nyanyian, sambung Al-Qaradhawi, semua mempunyai kecacatan. Ia mengungkap, pada perubahannya banyak nyanyian serta musik yang dibarengi perbuatan tercela, seperti minum arak serta perbuatan haram yang lain. Tersebut yang oleh beberapa ulama dipandang haram, ” tuturnya.

Al-Qaradhawi lalu mencuplik hadis kisah Bukhari serta Muslim yang menyebutkan kalau semuanya perbuatan itu mesti diserta dengan kemauan. Masing-masing orang juga akan dinilai menurut tujuannya. Dalam menafsir hadis ini, ia menyatakan, orang yang dengarkan nyanyian atau musik dengan kemauan bermaksiat pada Allah, jadi dia fasik.

Tapi, mereka yang miliki kemauan menghibur hati agar dapat selalu berbakti pada Allah, jadi dia yaitu orang yang patuh serta melakukan perbuatan baik, ” tutur ulama besar itu. Secara singkat, nyanyian mesti diposisikan tidak untuk bertentangan dengan norma Islam. Demikian juga pada type hiburan yang lain, seumpama melihat film di bioskop.

Al-Qaradhawi mengaku banyak pertanyaan sekitar pandangan Islam pada bioskop atau sandiwara. Ia memiliki pendapat, film serta bioskop bisa dipakai untuk beberapa hal yang baik serta yg tidak baik. Menurutnya, biskop sendiri tidak bermasalah. Status hukumnya tergantung pada pemakaiannya.

Hingga, ia setuju untuk tidak melarang Muslim ke bioskop. Seandainya, topik film yang disiarkan bersih dari suguhan kemaksiatan, kefasikan, serta semuanya yang dapat meruntuhkan akidah. Juga umat disuruh tidak untuk melupakan keharusan agama, seperti shalat lima saat, atau tidak melakukan perbuatan maksiat waktu melihat di bioskop.ibura

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *